Bidang Toponim BIG Lakukan Workshop Pendalaman Survei Toponim

Bandung, Berita Toponim - Sehari setelah peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, bidang Toponim, Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim - Badan Informasi Geospasial (PPRT-BIG) melakukan workshop pendalaman survei lapangan untuk pendataan toponim (nama rupabumi) bersama Sumarno, Dosen Teknik Geodesi ITENAS (Instititut Teknologi Nasional) dan tim teknisnya. Workshop ini bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan dan berbagi pengalaman tentang metode survei lapangan untuk pendataan nama rupabumi unsur buatan, diantaranya POI (Point of Interest) yang sudah dilakukan Sumarno dan tim teknisnya beberapa tahun terakhir. Hal ini diharapkan dapat menambah wawasan mengenai beberapa alternatif atau kombinasi teknologi yang dapat diterapkan untuk dapat membantu percepatan penyediaan data toponim yang lebih efektif dan efisien. Di sisi lain, kegiatan percepatan penyediaan data toponim ini juga perlu menggencarkan semangat kolaborasi atau gotong royong pendataan toponim, baik melalui pemetaan partisipatif maupun urun daya.

Pelaksanaan workshop diawali dengan penyampaian arahan dan paparan dari Harry Ferdiansyah (Kepala Bidang Toponim) mengenai kebutuhan akan percepatan pengumpulan data toponim. Harry menyampaikan pula tentang kegiatan survei toponim di daerah rencana IKN (Ibu Kota Negara), Kalimantan Timur yang menggunakan aplikasi android SAKTI (Sistem Akuisisi data Toponim Indonesia). Berdasarkan kapasitas survei dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, dilakukan estimasi kasar perhitungan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) dengan batasan waktu 4 tahun (2021-2024) untuk pengumpulan toponim. Diperoleh gambaran kasar anggaran dan SDM yang besar untuk mencakup seluruh wilayah Indonesia. Oleh karena itu, perlu strategi percepatan baik dari sisi teknologi maupun mekanisme pelaksanaannya. Kombinasi keduanya juga memperhatikan kompleksitas dan kondisi geografis wilayah Indonesia, termasuk personil yang akan melakukan. "Fokus akuisisi data yaitu di wilayah urban (perkotaan)" terang Harry.


Kemudian disambung paparan teknis dari Davin Aristomo (staf Toponim) yang menceritakan pengalamannya dalam kegiatan survei toponim untuk rencana IKN. Selain itu, dia juga menyampaikan beberapa poin yang bisa menjadi kendala waktu seperti kategori unsur yang banyak beserta sub kategorinya, proses digitasi garis maupun area (poligon) menggunakan gawai yang relatif susah, sehingga perlu penanganan lebih lanjut. Paparan dilanjutkan oleh Sumarno yang menceritakan pengalamannya survei POI (unsur rupabumi buatan) di berbagai daerah di Indonesia menggunakan beberapa peralatan seperti dash cam maupun action cam yang sudah tertanam penangkap sinyal GNSS (Global Navigation Satelite System) di dalamnya. Video geotagging dengan memanfaatkan kamera 360 dan penangkap sinyal GNSS pada kamera tersebut dapat menjadi salah satu alternatif pilihan. Sumarno menekankan perlunya, uji coba untuk membantu dalam estimasi perhitungan kapasitas dan penentuan klasifikasi kepadatan wilayah perkotaan di Indonesia yang berbeda-beda, misal Kota Bandung dapat disetarakan dengan Kota Makassar (berdasarkan pengalaman Sumarno dalam estimasi perhitungan kerapatan POI dan jaringan jalan).  Setelah paparan tersebut, dilanjutkan dengan sesi diskusi antara tim teknis dari bidang Toponim, PPRT-BIG dengan Sumarno dan tim teknisnya. Acara workshop ditutup dengan pengenalan peralatan survei yang digunakan oleh Sumarno dan tim teknisnya dalam pengumpulan POI di Indonesia.